
Oleh Ridhazia
Jika KAMPANYE HITAM (black campaign) selama ini dianggap buruk karena identik kampanye menyerang lawan politik. Antara lain membelokan informasi tanpa fakta atau bukti yang jelas. Bahkan lazim fitnah.
Tidak begitu dengan KAMPANYE PUTIH
(white campaign). Justru even kontestasi politik dimanfaatkan untuk menampilkan kesejatian dan citra diri di ruang publik yang memungkinkan sang politis atau partai politik memperluas jangkauan pengaruh dan kesetiaan.
Kesejatian kampanye putih juga dapat memberi alternatif menerpa para pemilih dari ketidakpastian pilihan. Bahkan mengubah kecenderungan memilih kandidat dan partai lain.
Digarap profesional…
Format kampanye putih harus tetap terbuka terhadap evaluasi dan interpretasi publik. Mungkin kritik atau ide dan gagasan alternatif lain untuk menambahkan dan melengkapi.
Dengan catatan, kampanye putih menjadi media berkomunikasi politik sesuai dengan ekspektasi publik jika sang politis sangat cerdas menjaga citra diri (brand image) dan reputasi (brand reputation).
Pelibatan para profesional dan keahlian lain seperti konsultan politik, para akademisi dalam tim yang kredibel menjadi keharusan. Kolaborasi tim ahli mejadikan keniscayaan kampanye bukan hanya menggalang dukungan suara. Juga untuk memberi teladan diri, menemukan ide dan gagasan baru yang terukur dan rasional dari sang politis.
Kampanye putih bukan lagi propaganda atau pidato agitasi yang menebar kebencian dan menutup mata agar melakukan keberpihakan emosional. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


