Kolom Sosial Politik

Berhentilah Membaca BERITA

87views

 

Oleh Ridhazia

Alih-alih memberi pengetahuan dan pengalaman yang baik. Terlalu banyak membaca berita hanya menyebabkan kecanduan dan menimbulkan kecemasan.

Rolf Dobelli dalam buku “Berhenti Membaca Berita” (2020) mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali kebiasaan membaca berita.

Berdasarkan pengalamannya sebagai seorang penyuka berita koran, radio dan televisi hingga berita dari media internet, kebiasaan yang semula dianggap baik justru tak selalu berbuah positif

Racun!

Apalagi berita yang tersebar di berbagai media belakangan ini tidak lagi relevan dengan kehidupan nyata. Bahkan sebagian besar tidak didukung data dan faktanya yang akurat.

Implikasinya, membaca banyak berita hanya akan mengubah otak secara negatif. Apalagi membaca berita-berita yang tak berkualitas dan pesannya buruk hanya akan meracuni kehidupan.

Selama ini berita seakan-akan mengikuti jejak kehidupan kemana saja. Jika tidak membacanya seolah-olah telah putus hubungan dengan setiap peristiwa dari sudut bumi. Tapi senyatanya hal itu sama sekali tak relevan.

Sepengalamannya, dengan berhenti membaca berita sama dengan menyelamatkan pikiran dari informasi yang berlebihan, dan lebih fokus pada hal-hal yang sebenarnya penting dalam hidup.

Bisakah hidup tanpa berita atau memilih berita di antara yang penting saja, mungkin pilihan saja sebagaimana kecenderungan hidup yang lazim dikenal sebagai slow living yakni hidup tanpa ambisi yang sangat erat kaitannya dengan selera dan keinginan tertentu. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati komunikasi sosial politi, bermukim di di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response