
Oleh Ridhazia
Sederhana saja janji Presiden itu. Yakni belajar dari negara lain yang sudah makmur agar penduduknya sehat dan panjang umur. Bukan hanya sarapan pagi dan minum susu.
Sebab disebut negara makmur jika terpenuhinya Indeks Kemakmuran antara lain jika Tingkat Harapan Hidup (THH). Semakin tinggi THH semakin sehat penduduk suatu negara.
Kongkritnya THH jika penduduk memiliki akses pada asuransi kesehatan yang membebaskan siapapun dari kelas sosial manapun mendapat pelayanan kesehatan yang sama. Tidak ada diskriminasi jenis rumah sakit, perbedaan kelas kamar, besaran biaya dan pelayanan dari tenaga kesehatan yang setara profesionalitasnya.
Sebab THH ndonesia menempati posisi ke-87. Indeks kemakmuran negara yang kerap sesumbar sebagai negara makmur ini masih sangat rendah. Tingkat kematian penduduknya relatif muda, di bawah usia 70 tahun.
Politik Anggaran
Besaran anggaran yang bisa direalisasikan dari janji presiden bergantung pada besaran kekuatan partai melalui sebanyak-banyak anggota partai di DPR.
Semakin besar kekuatan politik pendukung pada badan legislatif semakin besar peluang untuk meloloskan suatu anggaran. Sebab para wakil rakyat inilah yang memiliki portofolio politik anggaran.
Dan, semua itu bisa dimulai dari logika perlunya besaran presidential threshold atau ambang batas pencalonan presiden atau besaran koalisi partai politik dalam kontestasi politik pilpres dan pileg.
Inilah contohnya…
Berdasarkan data Legatum Institute, Singapura menjadi negara paling sehat di dunia pada 2023. Indeks Kemakmuran negara kecil ini tertinggi sedunia dan telah mengalahkan kemakmuran Jepang dan Korea Selatan. Juga kemakmuran Taiwan, China dan Israel. Bahkan menyalip kemakmuran Norwegia dan Islandia yang dulu paling top dengan tingkat harapan hidup 82,72 tahun.
Dilansir dari William Russell THH suatu negara akan ditentukan oleh tingginya standar pelatihan teknologi tenaga dokter dan paramedis terkait alat-alat yang kian canggih.
Negara dengan THH yang tinggi memiliki kebijakan politik yang ketat menjaga kultur lingkungan dari udara dan air agar tetap baik. Implikasinya anggaran kesehatan harus tinggi. Tapi tidak sesederhana janji memberi susu dan sarapan pagi gratis. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bmi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


