
Oleh Ridhazia
Duel yang paling ditunggu antara Persib Bandung vs Persija Jakarta pada Sabtu (9/3/2024) nanti segera terjadi. Kali ini pertadingan kedua tim legendaris berlangsung di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung.
Duel Persib Bandung kontra Persija Jakarta akan selalu dalam suasana yang penuh rivalitas dan sentimen para suporternya. Tapi kali ini bakal digelar tanpa penonton. Para suporter harus puas menonton di rumah saja karena akan disiarkan televisi swasta.
Keputusan final laga tanpa penonton sebagaimana keputusan risalah Komite Disiplin (Komdis) PSSI pada Jumat (7/3/2024).
Saat ini Persib berada di posisi ke-2 klasemen sementara Liga 1 2023/2024 dengan raihan 48 poin dari 27 pertandingan. Sementara, Persija Jakarta berada di posisi ke-8, mengantongi 35 poin dari 27 pertandingan.
Hukuman Mengikat
Keputusan Komdis PSSI ini mengikat. Padahal kompetisi bakal menyedot animo suporter. Dan, Persib membutuhkan dukungan penuh suporter untuk memompa semangat saat berjumpa lawan dan berburu kemenangan atas rival abadinya pekan ini. Pun, Persija ingin terus menjaga tren positif usai menang atas Dewa United pekan lalu.
Terkeras!
Rivalitas bertajuk duel klasik kedua tim sudah lama terjadi, sejak keduanya berdiri era kolonial Belanda. Persib terbentuk pada 1933. Persija pada tahun 1928. Tapi rivalitas meningkat dimulai pada tahun 2000 sampai sekarang.
Pertandingan kedua tim dianggap salah satu derbi terkeras, dan paling ramai. Juga tercatat paling legendaris dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Kedua tim pertama kali bertanding pada 1933 di Surabaya.
Betulkan laga klasik?
Sejak era perserikatan, Persib vs Persija tak pernah surut dari perhatian. Terlebih rivalitas suporter kedua tim Viking dan The Jakmania selalu panas. Bahkan perseteruan kedua pendukung fanatik itu memanen konflik berdarah.
Itu sebabnya, pengamat sepakbola mencermati kalau kaga Persib melawan Persija itu tak lebih sebagai pertandingan gengsi saja. Tidak patut dilabeli big match. Apalagi dilabeli El Clasico. Sebab esensi sepak bola dari pertandingan kedua tim ini tenggelam ditelan rivalitas suporter kedua tim. Ketimbang pertandingan yang bermutu pada era Perserikatan.
Yang sesungguh klasik adalah ketika big match Persib melawan PSM Medan ketika keduanya bertanding di partai final Perserikatan. Dua karakter permainan begitu menonjol.
Permainan Persib yang kerap menunjukkan gaya yang mengandalkan penguasaan bola, umpan-umpan pendek sehingga mejadi permainan yang sangat indah untuk ditonton saat itu melawan PSMS yang cenderung keras dan bertahan. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pegila bola, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


