
Oleh Ridhazia
Mbah Benu imam Masjid Aolia, Gunung Kidul, DI Yogjakarta, menjadi populer karena mengaku telah menelpon Tuhan ikhwal penentuan Idul Fitri yang rerata lebih cepat dari ormas muslim dan pemerintah di negeri ini.
Fenomena seperti ini baru pertama kali di kalangan muslim sehingga terasa mengejutkan. Padahal di negara tetangga yang berbeda agama dan keyakinan, menelpon Tuhan juga masih dianggap tabu dan kontroversial.
Lebih Cerdas
Boleh jadi kecerdasan Simbah Benu lebih cerdas ketimbang Leonard Kleinrock seorang insinyur kelahiran 1934 yang disebut sebagai Bapak Internet. Bahkan melampaui kehebatan Alexander Graham Bell (1847-1922) yang dikenal sebagai penemu telepon pada tahun 1876.
Bahkan sebisa-bisanya Mbah Benu menelpon Tuhan lebih super dari Lars Magnus Ericsson (1846-1926) penggagas cikal bakal telepon seluler tahun 1910. Juga lebih hebat dari penemu telepon genggam pertama pada tahun 1973 Martin Cooper yang kini berusia 95 tahun.
Toh, semua ilmuwan teknologi informasi tercanggih itu belum pernah bisa menghubungi Tuhan melakui telpon selulernya sebagaimana Mbah Benu dari Gunung Kidul.
Pastur Zimbabwe
Adalah Paul Sanyangore pastur asal Zimbabwe yang pernah kontroversial karena mengaku menelpon dan ditelpon Tuhan. Ia malah memiliki nomor telepon Tuhan dari Tuhan sendiri.
Saking yakinnya dengan teknologi moderen ia juga membuat acara reality show “Heaven Online” di saluran televisi milik gerejanya untuk melayani jamaah dengan mendengar siaran langsung dari Langit.
Meski pengakuannya kontroversial dan kehadirannya sering diragukan, tapi sang pastur memiliki pengikut yang percaya.
Agama Tetangga
Mencari Tuhan berarti menyadari akan keterbatasan dan ketidakberdayaan manusia. Selain berharap dan mengandalkan-Nya sebagai sumber pertolongan sejati.
Demikian juga dengan manusia moderen. Ia tidak hanya berkomunikasi altar-altar suci pemujaan. Juga makhluk yang hidup pada abad digital berusaha menemukan agama dan Tuhan berkelindan dengan sistem internet yang kian menggurita.
Kelaziman beragama yang terbarukan ini bisa ditelurusi melalui Google Zeitgeist yang menerbitkan ulasan dan cuplikan tahunan tentang topik agama dan spiritual yang diminati. Sejak tahun 2013, ulasan tahunan ini diberi judul ‘Year in Search’ yang dilengkapi video pencarian teratas. Termasuk dakwah agama.
Fenomena ini sama persis dengan prediksi James Redfield yang kini berusia 84 tahun dalam buku The Celestine Prophecy. Dosen sekaligus penulis novel ini pernah meramalkan bahwa di suatu masa akan terjadi sebuah transformasi besar yang lebih tinggi dalam diri manusia pada tataran spiritual.
Dan, prediksi ini mulai tampak meski masih samar-samar.
Filsafat Perenialisme
Transformasi spiritual seperti ini yang tengah berproses belakangan ini boleh jadi sebagai kelanjutan dari pemikiran yang dikemas dalam filsafat Perenialisme.
Filsafat Perenialisme (philosophia perennis) merupakan sudut pandang dalam filsafat agama sekaligus aliran pemikiran rasionalis-positivistik yang menekankan tentang kebenaran, tetapi tidak mengesampingkan nilai ajaran dan akar budaya manusia. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, Kota Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikolgi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


