Kolom Sosial Politik

Komunikasi Politik Ala KOMEDIAN

39views

 

Oleh Ridhazia

Komedian Deny Cagur (PDIP) dan Komeng (DPD) dipastikan melaju ke Senayan. Keduanya mewakili Jawa Barat setelah menyalip dan mengalahkan politisi unggulan.

Fenomena politik ketika  komedian menjadi sosok politisi unggulan bukan kali ini saja terjadi di Tanah Air sebagaimana dialami Miing dan Eko Patrio.

Politik Lelucon

Menceritakan lelucon dan bercanda tidak ada ruginya bagi politisi. Bercanda untuk mencairkan suasana. Apalagi politik yang serba serius dan komedi yang meringankan memiliki sejarah panjang dalam perpolitikan dunia. Komedian yang beraliansi pada parpol sangat positif untuk mendulang suara.

Dalam demokrasi ala Amerika saja, satir seperti The Daily Show dan The Colbert Report telah menjadi bagian dari budaya politik. Malah pertunjukan politik yang menghibur telah menjadikan humor sebagai varian dari komunikasi politik.

Dalam buku The Science of When We Laugh and Why, Scott Weems (2014) terungkap kalau humor sebagai suatu bentuk proses psikologis, selain mekanisme koping untuk menangani pesan kompleks dan kontradiktif. Sekaligus sebagai respons terhadap konflik dan kebingungan dalam kekerasan politik.

Hal ini bisa dibaca dari kajian Peter McGraw dan Joel Warner dalam The Humor Code (2014) kalau filsuf era Romawi Kuno sudah meletakan komedi sebagai dasar-dasar filsafat Barat.

Demikian juga Charles Darwin yang mencari benih tawa dalam tangisan gembira simpanse yang menggelitik. Sedangkan Sigmund Freud mencari motivasi yang mendasari lelucon di celah alam bawah sadar manusia.

Pendek kata, komedi dalam konteks politik lebih dari sekadar mengajak tertawa dan menyenangkan. Sekaligus menjadi peluang komedian untuk menjadi wakil rakyat di DPR.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response