Kolom Sosial Politik

Lintas Generasi: Memahami Perbedaan dan Kesamaan

83views

 

Oleh Kin Sanubary

Generasi X, yang kini telah menjadi orang tua bagi generasi Y atau yang lebih dikenal sebagai milenial, mengamati dengan cermat bagaimana anak muda saat ini menghadapi kehidupan dengan kecepatan yang luar biasa. Mereka hidup dalam zaman ketika segalanya harus terjadi dengan cepat,  ketika kebutuhan akan hal-hal instan menjadi suatu keharusan.

Namun demikian, dalam menyikapi perbedaan pandangan antargenerasi, penting bagi kita untuk bijaksana. Meskipun terdapat banyak perbedaan, setiap generasi membawa semangat baru, sementara tetap memiliki kesamaan dengan generasi sebelumnya, serta memiliki ciri khas dan keistimewaannya masing-masing.

Bagi generasi senior yang lahir sebelum tahun 90-an, kehidupan sehari-hari mereka melibatkan interaksi sosial yang lebih langsung dan waktu yang lebih lama untuk menunggu. Era digital belum lahir, sehingga mereka bergantung pada media tradisional seperti radio, surat, kartu pos, dan telegram. Komunikasi dilakukan melalui proses yang membutuhkan kesabaran, seperti mengirim surat dan menunggu kiriman wesel pos, atau antre di wartel untuk menelepon orang yang mereka sayangi.

Sentuhan fisik dan interaksi langsung menjadi hal yang sangat penting bagi generasi senior. Meskipun teknologi telah memungkinkan adanya konferensi video, pengalaman tersebut tetaplah berbeda dari pertemuan tatap muka secara langsung, meskipun mungkin dianggap sama oleh generasi milenial.

Generasi senior pada masa itu sangat tergantung pada media komunikasi konvensional seperti wartel, telegram, surat, wesel pos, mesin tik, radio, dan perangkat musik portabel seperti walkman. Aktivitas seperti antre di wartel untuk menelepon, atau mengirim telegram untuk menyampaikan pesan penting, merupakan hal yang biasa dilakukan.

Kenangan manis dan pahit juga telah mereka alami, seperti memutuskan hubungan melalui telegram, atau menunggu dengan penuh harap kiriman wesel pos dari orang tua. Selain itu, penggunaan kaset sebagai media penyimpanan dan pemutaran musik menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Kreativitas dalam mengatasi masalah teknis, seperti memperbaiki pita kaset yang putus dengan menggunakan kuteks, menjadi hal yang biasa dilakukan.

Sebelum era komputer, mesin tik menjadi alat utama bagi generasi senior dalam menulis atau mengerjakan tugas-tugas sekolah. Suara mesin tik yang berdentang di tengah malam menjadi simbol kerja keras dan dedikasi dalam mengejar cita-cita.

Majalah dinding atau yang sering disebut sebagai mading menjadi media komunikasi populer di kalangan generasi senior. Di samping berisi laporan atau cerita, mading juga menjadi tempat untuk saling mengirimkan pesan kepada teman atau gebetan, serta memamerkan karya-karya sastra mereka.

Hubungan antara generasi senior dan milenial tidak hanya terjadi dalam lingkup keluarga, tetapi juga di tempat kerja. Meskipun keduanya seringkali memiliki perbedaan dalam cara pandang dan perilaku,  penting untuk menyadari bahwa keduanya dapat bersinergi untuk mencapai tujuan yang sama.

Dengan memahami perbedaan dan kesamaan antara generasi-generasi ini, kita dapat membangun hubungan yang lebih harmonis dan saling mendukung satu sama lain dalam berbagai aspek kehidupan. *

* Kin Sanubary, kolektor, pendiri dan pengelola Rumah Media Lawas, penerima Penghargaan PWI Jawa Barat 2023 kategori pelestari media massa nasional, bermukim di Tanjungwangi, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Leave a Response