
Oleh Ridhazia
Sejarawan Unpad, Bandung, masih tetap sehat dan masih sangat cerdas. Pemikirannya masih mengalir deras di media sosial. Sebuah teladan yang tak terhingga. Saya berharap kepada Allah SWT agar beliau yang saya hormati diberikan usia yang panjang.
Hingga 28 Maret 2024 beliau berusia 89 tahun. Barakallah Prof Ahmad Mansur Suryanegara.
Ketekunan Luar Biasa
Ketekunan dan ketelitian merupakan karakter sejarawan. Tapi fokus pada studi Islam di Indonesia hanya bisa dijumpai pada sosok yang satu ini. Menekuni sesuatu yang langka lalu diperjuangkan sebagai dokumen akademik dalam konstruksi yang tegak lurus yakni islamisasi penulisan sejarah.
Sesuatu yang langka tapi tekun diperjuangkan itu mengasumsikan bahwa agama Islam memberikan pengaruh terbesar sekaligus pelopor kebangkitan nasional di Indonesia.
Dalam karya sejarahnya ia menegaskan bahwa telah terjadi kekeliruan-kekeliruan dalam penulisan sejarah di negeri ini. Semua itu berpangkal dari sekularisasi penulisan sejarah negara Indonesia oleh sejarawan negara-negara Eropa.
Karya-karya akademiknya antara lain “Api Sejarah dan Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam Indonesia” merupakan bukti komitmen tentang pelurusan sejarah Indonesia bahwa Islam bukan saja ajaran beragama. Juga telah menjadi ajaran mainstream perpolitikan nasional.
Koreksi total
Adalah Prof Ahmad Mansur Suryanegara yang terdepan mengoreksi buku Sejarah Nasional Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Buku Sejarah Nasional Indonesia yang merupakan sebuah buku standar sejarah sekaligus menjadi rujukan bagi penulisan sejarah Indonesia. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


