Oleh Ridhazia
Politisi negeri ini rerata tajir. Bukan saja miliarder juga memiliki kekayaan hingga triliunan rupiah. Ternyata karena politik dan bisnis selalu barter kepentingan. Keduanya seperti kembaran. Ibarat dua sisi mata uang. Berbagi dan saling menopang.
Pendek kata, politisi bergantung pada pebisnis. Dan, pebisnis menaruh harapan pada politisi. Imbal jasa dan pengaruh inilah banyak politisi yang sukses karena dimodali pebisnis yang sukses. Demikian pula pebisnis yang hebat buah dari relasi dengan politisi yang sama hebatnya.
Riset LIPI menemukan fakta kalau politisi di Indonesia ternyata 48,8% berasal dari pengusaha yang hebat. Berasal dari pebisnis ulung yang pada gilirannya mendongkrak elektabilitas personal politisi pada partai.
Mau bilang apa kalau faktanya begitu.
Para menteri saja sebagian besar politisi tajir. Para pembantu presiden dalam situs LHKPN KPK masuk golongan pengusaha berkelas. Diantaranya Sandiaga Uno menempati urutan teratas daftar menteri tajir di kabinet. Kekayaannya mencapai Rp 3,81 triliun. Selain Prabowo Subianto ( Rp 2,03 triliun) dan Nadiem Anwar Makarim (Rp 1,19 triliun).
Beberapa menteri lain termasuk kelompok miliader. Kekayaannya masih di bawah 1 triliun rupiah. Misalnya total kekayaan Luhut Binsar Pandjaitan mencapai Rp 716,3 miliar, sedangkan kekayaan Airlangga Hartarto pada 2021 mencapai Rp 425,6 miliar.
Siapa presiden tajir
Berita tentang kekayaan politis ini bisa dibaca dari Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur melaporkan harta sebesar Rp 3,49 miliar kepada Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN).
Harta kekayaan Jokowi per Februari 2022 sebesar Rp 71,4 miliar atau tepatnya Rp 71.471.446.189. Jumlah harta dalam laporan untuk periode 2021 tersebut naik dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 63,6 miliar.
Sedangkan presiden SBY tercatat melaporkan harta kekayaan sebesar Rp 13,9 miliar atau Rp 13.983.608.460. Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri dalam LHKPN 2021 memiliki harta sebesar Rp 214 miliar. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis yang mengaku tidak termasuk tajir, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


