Kolom Sosial Politik

Pemilih Pemula Emoh Ke TPS

69views

 

Oleh Ridhazia

Tenyata pemilih pemula menjadi kelompok usia yang paling rentan tidak ikut pemilu. Lebih baik tidur daripada datang ke TPS memberikan suara politiknya.

Padahal pemilih pemula — yang disebut swing voters (SV) dan undecided voters (UV) — ini ceruk suara yang signifikan untuk menambah dukungan politik. Apalagi di Indonesia pemilih yang masih mengambang masih besar yakni dikisaran 29,1% (2014) dan 28,3% (2009).

Demokrasi buruk?

Argumen yang berkembang bertambahnya pemilih mengambang sebagai isyarat kesehatan demokrasi memburuk (Fieldhouse et al., 2007). Lebih jauh lagi menjadi indikator legitimasi demokrasi dianggap menurun. Bahkan pemilu diasumsikan gagal (Topf, 1995a).

Namun kecenderungan ini bukan hanya di Indonesia. Juga terjadi di pemilu di Eropa Barat (Aarts dan Wessels, 2005 ; Blais dan Rubenson, 2007 ; Franklin dkk., 2004 ).

Kemungkinan pemilih pemula tidak memberikan suara politiknya ke TPS karena tidak termotivasi terlibat secara efektif dalam politik.

Memberikan suara bagi kelompok pemilih pemula karena kepentingannya tidak oleh para aktor politik yang dikehendakinya. Apalagi dari sudut pandang kritis ini, pemilih pemula lebih memiliki pertimbangan ekspresif dibandingkan pertimbangan instrumental (Tóka, 2009).

Faktor lain, karena pengaruh relasi dalam keluarga. Orangtuanya pasif dan ogah-ogahan berpolitik (Franklin, 2004 ; Highton dan Wolfinger, 2001 ; Bhatti dan Hansen, 2010 ).   *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response