Kolom Sosial Politik

Perang Terbuka SUDAH SELESAI

103views

 

Oleh Emeraldy Chatra

Ada dua perang dalam merebut kursi presiden. Pertama perang terbuka, kedua perang tertutup. Siapa yang menang dalam perang terbuka ia akan lebih mudah menang dalam perang tertutup.

Perang terbuka adalah perang yang disaksikan publik secara luas. Dalam perang ini terjadi kontestasi angka-angka. Instrumennya quick count. Paslon mana yang mendapatkan angka terbanyak dalam quick count dialah yang akan menentukan hasil dari perang tahap berikutnya, yaitu perang tertutup.

Mengapa demikian? Karena kemenangan dalam quick count sudah membangun persepsi publik tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Persepsi publik itu kini sudah jadi ekuitas.

Ketika publik sudah ‘setuju’ paslon A atau B memenangkan pemilihan diam-diam mereka berpikir angka real count juga akan sama. Kebanyakan mereka tidak tahu bahwa angka quick count bukanlah angka real, tapi angka sampel. Sampel itu bisa saja diatur.

Perang berikutnya bertanding real count: perolehan suara yang sebenarnya. Ini perang tertutup, ibarat perang di hutan belantara. Jauh dari pandangan publik. Bunyinya pun tak terlalu terdengar lagi.

Namanya saja perang di hutan belantara. Tentu hukum rimba tak bisa dihindarkan. Siapa yang punya amunisi banyak, uang tak terbatas dan logistik yang kuat, dialah yang akan menang.

Pihak yang tidak banyak amunisi, uang cekak dan logistik payah pula kecil kemungkinan akan menang. Terlalu banyak ranjau dan jebakan yang tidak mudah dihindari.

Paradigma kemenangan memang sudah berubah. Kontribusi real count sudah menipis. Sekarang, dengan paradigma baru, kemenangan lebih ditentukan oleh persepsi publik. Persepsi itu dapat saja berlawanan dengan real count. *

* Dr Emeraldy Chatra, M.Ikom, pemerhati komunikasi, budaya dan media, dosen senior dan Ketua Program Studi S2 Komunikasi Universitas Andalas (Unand), bermukim di Kota Padang, Sumatera Barat.

Leave a Response