Kolom Sosial Politik

Pilpres dari SITU KE SITU

53views

 

Oleh Ridhazia

Mendongkrak elektabilitas semakin seret. Debat kandidat di televisi dan kampanye langsung di ruang terbuka tidak akan banyak berpengaruh. Hal ini tampak dari sejumlah survey. Elektabilitas para kandidat tidak bergeser siginifikan.

Dugaan tidak ada perubahan besar pertambahan atau pengurangan dukungan. menjelang akhir kampanye terjadi lantaran publik lelah. Pesan-pesan politik sudah stagnan. Dari “situ ke situ” juga. Tidak ada narasi ide dan gagasan baru.

Hal lainnya, sebagian besar publik bakal pemilih sudah menjadi partisan suatu partai. Sudah memiliki preferensi sendiri tentang bakal siapa dan partai apa yang bakal dipilih dan didukung.

Key Opinion Leader

Diperkirakan masih dikisaran 30 persen saja yang belum menentukan pilihan pada pilpres 2024. Jika Pemilu 1999 sebatas 7,3 persen, pada Pemilu 2004 bertambah menjadi 15,9 persen, sedangkan Pemilu 2009 mencapai 28,3 persen dan menjadi 29,1 persen pada Pemilu 2014. Dan, diperkirakan pada Pemilu 2024 dikisaran 30%.

Pertambahan ini ada kaitannya key opinion leader melalui media sosial. Posisinya cenderung mengaduk-aduk perasaan dan pikiran melalui pengerahan influencer. Para influencer inilah yang berfungsi “pasukan perang” menyiapkan siapa yang mengendorse, mengglorifikasi, dan mengamplifikasi calon pemilih yang masih bimbang, dan belum menentukan pilihan.

Swing Voter dan Undecided voters.

Kelompok yang gamang memutuskan pilihan bahkan kecenderungan masih belum akan menentukan pilihan perubahan, bahkan pasif merespons dinamika politik lima tahunan dalam studi ilmu politik lazim disebut swing voters dan undecided voters.

Swing voters sering diidentifikasi sebagai pemilih yang mengedepankan rasionalitas. Selalu mempertimbangkan keputusan ia akan mencari alasan yang paling masuk akal untuk menentukan kandidat yang bakal dipilihnya. Kelompok ini bukan partisan yang rentan terjebak alasan emosional dan fanatisme buta. Apalagi masuk kubangan afiliasi politik.

Dibedakan dengan undecided voters berasal dari kalangan menengah kritis. Bahkan sikapnya yang mengambang dan pasif dikelompokkan sebagai pemilih ragu-ragu. Bahkan potensial menjadi golput (golongan putih).

Pemilih Hantu

Golput itu diidentifikasi sebagai pemilih hantu (ghost voter). Pasalnya, sang pemilih sulit diidentifikasi. Mulai dalam hal administrasi, ideologis, politis dan pragmatis.

Semua alasan berpangkal gambaran negatif tentang kekuasaan dan pemerintahan. Memilih atau tidak memilih bagi kelompok ini tidak mengubah apa pun. Ditambah alasan lain, partai atau kandidat tidak memenuhi standar preferensi pribadinya. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response