
Oleh Ridhazia
Jangan terpenjara oleh pilihan lalu tercerai berai bahkan bermusuhan. Pilpres itu politik BOONGAN. Giliran pada waktunya memilih, cukup dirahasiakan saja. Tunjukan saja buktinya kalau salah satu jari tangan sudah dicelupkan tinta pemilu.
Toh, senyatanya d iantara para kandidat yang bersaing juga biasa-biasa saja. Tidak sedikit pun konflik. Sunyam senyum, bersalaman hingga berpelukan satu sama lain.
Jika suatu saat salah satu kandidat menjadi pemenangnya, partai yang berbeda dukungan bisa saja berkoalisi di parlemen. Mungkin para tokohnya menjadi menteri. Kalau pun mau beroposisi, toh hubungan tetap cair hingga tiba giliran pilpres berikutnya
Ideologi Tunggal
Di negeri ini, sekeras-kerasnya perbedaan pendapat, persaingan keras toh ideologi politiknya tunggal.
Asal usul partai atau asal usul kandidat sama saja. Bahkan tokoh dan partai pengusungnya pun yang itu-itu juga. Jika terasa berbeda hanya sebatas untuk memenuhi norma bersaing untuk mendapat simpati, meraup suara dan kepercayaan publik.
Sejauh yang bisa diamati, selama masa kontestasi, tidak ada pergesekan atau konflik yang terlalu mencolok. Tidak ada benturan yang berarti. Masih dalam koridor aturan.
Demikian juga pesan kampanye. Emosinya terkendali. Sesekali meledak, hal lumrah dan biasa. Tapi akal sehatnya masih jalan.
Pendek kata, semua yang terjadi selama kontestasi mungkin hanyalah “drama” agar terasa aroma pilpresnya. Namanya juga pesta. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


