
Oleh Ridhazia
Dalam nomenklatur ilmu politik, politik rumahan diserupakan dengan politik oligarki. Relasi antar politisi di internal keluarga lebih dominan ketimbang relasi antar partai.
Karakteristik politik rumahan lebih informal tertutup ketimbang formal terbuka. Distribusi kekuasaan negara dan pemerintahan bukan diatur dari istana, tetapi di rumah pribadi. Demikian dalam urusan pembagian posisi para elit politik, secukup-cukupnya relasi pribadi.
Pemilih Pemula
Sistem politik rumah menyerupai politik rekaan. Diatur oleh kultur dan kehangatan relasi ayah, ibu dan anak hingga menantu, dan mungkin cucu. Ada warisan ideologis dari moyangnya yang lazim dipertahankan.
Penelitian di Amerika Serikat membuktikan hal itu. Pemilih berasal dari satu keluarga mewarisi ideologi partai moyangnya. Tak terkecuali para pemilih pemula dari kelompok usia milenial.
Bagaimana di Indonesia?
Pemilih milenial di Indonesia menurut pemetaan kajian Departemen Ilmu Komunikasi Fisip UI melalui penelitian bertajuk Millenial’s Voting Behavior in Indonesia(2018) menjadi empat karakteristik, yakni: doubtfulness (belum menentukan pilihan), open minded (telah menentukan pilihan), modest (pilihan mengikuti orang pilihan orang tua dan keluarga terdekat ), dan apathetic (tidak peduli).
Survei “Connecting with the Millenial” yang dilakukan VISA di Indonesia juga memberikan gambaran bahwa kelompok milenial Indonesia masih menempatkan orang tua sebagai pusat pertimbangan dan pengambilan keputusan politik. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


