Kolom Sosial Politik

Profesor PENCERAHAN

125views

 

Oleh Ridhazia

Johann Gottlieb Fichte (1762-1814) menjadi profesor yang sangat menginspirasi. Selain lahir dari keluarga melarat sehingga untuk membiayai sekolahnya ia terpaksa membantu ayahnya menyamak kulit dan memelihara angsa. Toh akhirnya, pada tahun 1794 ia diangkat menjadi profesor filsafat.

Nama Fichte dikenang karena guru besar yang pandangannya yang liberal dalam bidang agama. Bahkan pada puncak pemikirannya, ia harus menerima tuduhan telah menyebarkan dan menganut ajaran ateisme. Tapi hal sebaliknya terjadi. Tahun 1809 ia dipilih menjadi dekan di universitas Berlin hingga diangkat menjadi rektor pada tahun 1810.

Profesor pencerahan..

Fichte dikenal sebagai guru besar filsafat yang sangat mendalami dan memahami Immanuel Kant (1724-1804) pelopor rasionalisme pada abad pencerahan dimana rasio menjadi titik kulminasi pemikiran manusia sekaligus menolak segala bentuk pemikiran yang terlalu didominasi pemikiran metafisis.

Kant mendefinisikan zaman pencerahan sebagai ‘terlepasnya manusia dari sikap ketidakdewasaan (unműdigkeit) yang disebabkan oleh keengganan untuk memanfaatkan rasionya. Baginya, akal budi manusia adalah ukuran dan prinsip untuk segalanya.

Berkat rasio sebagai pusat pemikiran, pusat perasaan, pusat kehendak, dan pusat tindakan manusia tidak dipandang lagi sebagai makhluk peziarah (viator mundi) melainkan sebagai pembuat dunia (faber mundi).

Akal dan logika

Era abad pencerahan memosisikan akal dan logika menjadi alasan seseorang dikukuhkan sebagai profesor karena keduanya saling berkaitan erat dan melibatkan perbandingan konsep. Meskipun akal dan logika sama-sama merupakan bentuk pemikiran manusia.

Perbedaan paling utama antara akal dan logika adalah logika adalah studi sistematis tentang bentuk argumen sedangkan akal adalah penerapan logika untuk memahami dan menilai sesuatu.

Itu sebabnya, logika dianggap sebagai penalaran yang dilakukan menurut prinsip-prinsip validitas yang ketat. *

  • Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response