Kolom Sosial Politik

Resesi SEKS

67views

 

Oleh Ridhazia

Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan tingkat kelahiran yang rendah. Juga fenomena keengganan manusia menikah dan ogah ngeseks.

Dalam sebuah penelitian terbaru oleh Institute for Family Studies (IFS) keengganan pasangan suami istri berhubungan seks meningkat lebih dari dua kali lipat. Dari 8% menjadi 21%.

Yang menjadi sebab di balik resesi seks terutama keengganan perempuan memiliki anak yang banyak. Implikasinya, jumlah anak anak di muka Bumi berangsur-angsur semakin berkurang.

Tapi sejauh ini penelitian tentang resesi seks yang diterbitkan pada 2021 tidak menemukan bukti adanya resesi seks pada populasi pria. Tingkat ketidakaktifan seks para kaum Adam lebih konstan ketimbang kaum Hawa.

China, Korea Selatan, dan Jepang disebut-sebut sebagai negara di Asia Timur yang mengalami resesi seks namun anggapan ini belum didukung oleh bukti ilmiah. Kecuali para peneliti menemukan bahwa Generasi Z yang lahir antara tahun 2000 dan 2004, memiliki tingkat ketidakaktifan seks yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan generasi-generasi sebelumnya alias jarang melakukan aktivitas seks.

Seks di Indonesia

Pertumbuhan seks di Indonesia dalam kondisi stabil. Rasionya masih 2,1. Yang menikah 2 juta, yang hamil 4,8 juta (dalam setahun). Artinya di Indonesia tidak mengalami resesi seks. Malah berusaha menekan angka kelahiran dalam beberapa tahun terakhir, dengan target 2,1 anak per ibu pada 2024. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response