Oleh Ridhazia
Kebun Binatang Bandung kembali bermasalah. Kisruh baru ditandai oleh Walikota Bandung yang “mengaum” keras. Bahkan mengancam dengan mengerahkan aparatnya menyegel tempat wisata fauna dan flora di kota Bandung.
Pasalnya kekisruhan ini diduga karena pengelola obyek wisata ini menunggak pembayaran sewa hingga sebesar Rp 17,1 miliar kepada Pemkot Bandung. Tidak diketahui sejak kapan uang kompensasi sewa tanah milik Pemkot Bandung yang digunakan kebun binatang tidak dibayar. Diperkirakan keseluruhan tanah pemerintah itu 135 hektar.
Sikap yang ditunjukkan Pj Wali Kota Bandung Ema Sumarna dalam kasus kebun binatang mungkin paling tegas di antara rerata pejabat pemkot lainnya.
Ancaman akan menyelamatkan aset pemerintah menjadi alasan yang logis di balik keputusan menyoal keseriusan pihak pengelola kebun bintang melunasi kewajibannya ketimbang masalah ini berlarut-larut.
Tapi publik belum mengetahui rencana berikutnya Pemkot Bandung jika tempat wisata paling legendaris itu ditutup apakah akan dialihfungsikan menjadi tempat bisnis lain. Lalu bagaimana menyelematkan aset kebun binatang termasuk binatang yang ada didalamnya akan ditanggung walikota. Sebab konsekuensi penyegelan biaya bakal mengganggu biaya operasional kebun binatang.
Atau tetap menyelamatkan jejak sejarah dengan menegosiasikan ulang kebun binatang yang sudah ada sejak 1933 ini. Sekaligus memformulasikan kembali destinasi wisata baru dengan menajemen baru yang lebih profesional.
Derenten
Kebun Binatang Bandung dipelopori dan didirikan oleh Bandung Zoological Park (BZP) sejak 1930 oleh Direktur Bank Dennis, Hoogland. Tapi baru dibuka untuk umum pada 1933.
Pada tahun 1956, atas inisiatif dari tokoh sekaligus politis Sunda Raden Ema Bratakusumah (1901-1984) BZP yang merupakan peninggalan Belanda dilikuidasi dan berganti menjadi Yayasan Marga Satwa Tamansari pada tahun 1957 hingga sekarang.
Publik Bandung menyebut kebun binatang yang berlokasi di dekat kampus ITB sebagai Derenten – serupa dengan kata dierentuin yang artinya kebun binatang. Tempat wisata ini paling favorit ini tidak akan tergantikan meski destinasi wisata baru yang tak kalah menarik. Antara lain Lembang Park & Zoo atau Lactasari Mini Farm dan Bird Park yang dibangun di atap sebuah mall besar yang ada di kota Bandung. Ada pula Farmhous tempat wisata fauna yang sengaja di tata serba mini. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis yang merasa berbahagia jika mengantar cucunya bermain ke Kebun Binatang Bandung, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileumyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


