
Oleh Emeraldy Chatra
Isu penyakit Mental Miskin yang saya gelontorkan sekitar satu bulan yang lalu mulai menuai reaksi. Ada yang bertanya, siapa yang saya maksud sebagai penderita penyakit Mental Miskin? Mengapa banyak yang menderita penyakit itu?
Tapi dari pertanyaan-pertanyaan yang saya terima, yang paling menarik adalah pertanyaan: apakah penyakit itu takdir atau pilihan? Kalau itu pilihan apakah penyakit itu sengaja diciptakan?
Sebelum menjawab, saya jelaskan dulu apa saja sindrom atau penanda Mental Miskin itu. Saya merumuskan adanya sembilan sindrom yaitu, pertama penderita Mental Miskin tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, lebih percaya pada keajaiban dan keberuntungan.
Kedua, mereka tidak percaya pada kekuatan akal budi, komunikasi, dan manfaat hubungan yang saling menguntungkan di antara manusia.
Ketiga, penderita lebih suka melihat ke atas, mengagumi orang-orang kaya dan berkuasa. Tidak suka melihat ke bawah, kepada orang-orang yang kurang beruntung.
Keempat, mereka mengimpikan hidup enak, berkuasa, kaya, senang dan mudah. Penderita akut tidak lagi sekedar mengimpikan tapi sudah obsesif (mempertaruhkan apa saja untuk mendapatkannya).
Kelima, mereka tidak bersyukur atas apa yang telah diperoleh. Mereka selalu merasa belum cukup beruntung.
Keenam, mereka cendrung pelit dan mencintai harta.
Ketujuh, mereka enggan bersedekah karena merasa rugi kalau bersedekah.
Kedelapan, mereka suka mengharapkan orang lain memberikan bantuan atau memecahkan masalah yang ia hadapi.
Kesembilan, mereka selalu menimpakan kesalahan pada orang lain ketika mendapat masalah. Tapi ketika mereka mendapatkan kesenangan, keuntungan usaha yang besar, sukses dalam karir, mereka akan mengklaim semua itu hasil usaha keras dan kecerdasannya saja.
Kesembilan sindrom itu berakar pada kesadaran dan pikiran yang terbagi atas tiga elemen yaitu 1) memori, 2) logika dan 3) imajinasi. Oleh karena itu untuk memahami eksistensi kesembilan sindrom itu kita perlu memeriksa dan memahami bagaimana kesadaran dan pikiran manusia.
Memori, logika dan imajinasi itu ibarat cawan yang dapat diisi dengan material yang dikehendaki orang atau kelompok yang berkepentingan. Pada awalnya manusia adalah tabula rasa atau seperti lembaran kain putih. Isinya tergantung pada apa yang ditulis di atas kain itu. Rasulullah mengatakan, “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR Bukhari dan Muslim).
Ajaran Islam menghendaki kita mengisinya dengan material yang tidak akan menumbuhkan kesembilan sindrom tadi. Sebaliknya, orang atau kelompok-kelompok tertentu bergerak ke arah yang lain. Mereka mengisinya dengan material yang justru menumbuhkan sindrom Mental Miskin.
Apa yang mereka isikan? Mereka mengisi memori dengan simbol-simbol kemegahan duniawi, kekuasaan, dan harta sehingga ingatan orang selalu tertuju pada simbol-simbol itu.
Mereka mengisi logika dengan algoritma yang terpaut dengan simbol duniawi di memori. Akibatnya orang selalu membenarkan argumen yang akan menghasilkan keuntungan, laba, membenarkan penindasan atas manusia. Logika yang dibangun menyebabkan halal dan haram atau legal dan ilegal itu hanya sekedar jargon.
Imajinasi kemudian diselaraskan pula dengan isi memori dan logika. Akibatnya orang senantiasa mengimpikan kenikmatan duniawi saja. Mereka mengabaikan dan tidak mampu berimajinasi tentang kenikmatan surgawi.
Pengisian ketiga elemen itu dilakukan melalui pendidikan, komunikasi antar pribadi, dan media massa. Medium lain adalah contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Baik yang dilakukan oleh orang-orang berkuasa, pemilik harta benda, atau kelompok istimewa tertentu.
Oleh karena isi memori, logika dan imajinasi tergantung pada siapa yang mengisi, dengan sendirinya kesembilan sindrom tadi bukanlah takdir. Dengan sendirinya, Mental Miskin bukanlah takdir. Mental Miskin itu pilihan.
Silahkan anda memilih, apakah akan menderita Mental Miskin atau tidak. Bila tidak ingin mengidapnya, anda dapat menoleh kepada ajaran Islam dan meninggalkan medium-medium yang digunakan untuk menjadikan Mental Miskin sebagai wabah. *
* Dr Emeraldy Chatra, M.Ikom, pemerhati budaya komunikasi dan media, dosen senior dan Ketua Program Studi S2 Komunikasi Universitas Andalas (Unand), bermukim di Kota Padang, Sumatera Barat.
31 Januari 2024


