
Oleh Ridhazia
Angkuh, arogan, congkak, tinggi hati, dan besar kepala politisi Tanah Air tak terhindarkan seusai pilpres 2024.
Konflik antarelit yang mendahulukan kepentingan diri dan kelompoknya mengemuka belakangan ini. Terutama dalam relasi politik Megawati atas Jokowi.
Dua tokoh yang pecah kongsi politik sama-sama menciptakan suasana psikologi negeri ini dalam keadaan ambyar.
Apa itu angkuh?
Angkuh itu perasaan dalam hati yang dipicu status atau prestasi. Sikap ingin dihargai melampaui batas senyatanya. Ia mengidentifikasi diri kalau status sosialnya lebih tinggi atas orang lain.
Pihak-pihak dengan kelompok pendukungnya masih bersikukuh untuk mendapat pujian ketimbang refleksi diri. Jauh dari perasaan puas berkuasa. Bahkan enggan redup dari popularitas.
Angkuh sebagai salah satu dari emosi tentang kesadaran diri —selain rasa malu (shame dan embarrassment) — di tengah kompleksitas kepentingan diri dan kekelompokan di negeri bisa dilacak dari ekspresi nonverbal masing-masing tokoh.
Pernyataannya tak lepas dari kesombongan. Pesannya menohok atas pernyataan lawan politik. Jauh dari kesan ingin berdamai. Alih-alih mempromosikan rasa kesamaan untuk saling menguatkan malah melemahkan yang lainnya.
Hirarki
Salam konteks studi psikologi politik kesombongan para tokoh politik Tanah Air ini berakar dari suatu emosi yang terlalu memperkaya hierarki diri yang tinggi yang pada gilirannya menutup dan menyingkirkan negosiasi konflik. Yakni perasaan bahwa kebaikannya berasal dari posisi dirinya sendiri. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, Kota Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


