
Oleh Ridhazia
Siapa pun calon presiden/wakil presiden yang ikut kontestasi pada pilpres 2024 berpeluang menjadi pemenang. Tak ada pengecualian. Semua kesempatan sama. Bisa diraih siapa pun. Bergantung pada besaran pengaruh dan luas dukungan. Terutama raihan suara. Tentu saja kekuatan dana operasional.
Jika Satu Putaran
Mungkinkah pilpres 2024 berlangsung satu putaran — yang disebut sebagai sistem first-past-the-post atau plurality voting — bergantung pada hasil perhitungan akhir putaran pertama. Jika salah satu dari tiga kandidat memperoleh jumlah suara terbanyak atau mayoritas mutlak atau jumlah total suara dukungan lebih dari 50 +1, kemungkinan ini bisa terjadi.
Jika Dua Putaran
Pilpres dua putaran yang dipopulerkan dalam studi ilmu politik sebagai runoff election juga berpeluang terjadi jika tidak ada kandidat yang memperoleh mayoritas mutlak dalam putaran pertama. Berarti untuk menentukan siapa yang bakal terpilih, harus dilakukan pemilihan ulang untuk dua kandidat dengan suara terbanyak pada putaran pertama.
Satu atau dua putaran…
Bagi para kandidat pilpres, satu putaran lebih berarti. Mengurangi kelelahan yang berkepanjangan juga mempercepat hasil ikhtiarnya. Selain memangkas waktu, juga mengirit pembiayaan politik ketimbang dua putaran.
Bagi rakyat satu atau dua putaran menjadi kesempatan yang sama. Jika satu putaran, bisa menyegerakan melihat hasilnya, siapa pemenang yang didukungnya. Jika dua putaran harus kembali ke TPS dengan memberi alternatif pilihan yang berbeda pada saat putaran pertama.
Ini sama saja kembali dalam kelelahan baru. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau bakal terbawa arus perbedaaan pilihan. Padahal jika satu putaran saja bisa menyegerakan istirahat untuk memulihkan diri. Hidup normal tidak dalam bayang-bayang konflik. Fokus pada pekerjaan dan mengurus rumah tangga.
Risiko dua putaran pun bukan hanya kelelahan berkepanjangan, tapi potensial menjadi gangguan hasil pilpres. Jika jumlah pemilih ogah kembali TPS alias golput yang besar, legitimasi pilpres bisa terancam. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


